Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga kembali menyelenggarakan rangkaian Program Adjunct Professor UNAIR (8–18 Februari 2026) pada Kamis, 12 Februari 2026 dengan menghadirkan Prof. Ir. Dr. Siti Rozaimah Sheikh Abdullah dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

Mengusung tema “Water Treatment in Malaysia: Current and Future Prospect”, sesi ini diikuti 60 mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan dan mengupas secara komprehensif sistem pengolahan air minum di Malaysia, mulai dari sumber air baku, regulasi kualitas air, tantangan pengelolaan, hingga prospek teknologi pengolahan di masa depan.

Ketahanan Air dan Tantangan Kualitas

Dalam pemaparannya, Prof. Siti Rozaimah menjelaskan bahwa sekitar 97% sumber air baku di Malaysia berasal dari air permukaan (sungai), sementara sisanya berasal dari air tanah. Sistem pemantauan kualitas air sungai dilakukan secara nasional oleh Department of Environment (DOE) melalui jaringan monitoring yang telah berjalan sejak 1978.

Kualitas air diklasifikasikan menggunakan Water Quality Index (WQI) berdasarkan parameter utama seperti dissolved oxygen (DO), biochemical oxygen demand (BOD), chemical oxygen demand (COD), ammoniacal nitrogen (NH₃-N), suspended solids (SS), dan pH. Selain itu, standar kualitas air minum diatur oleh Kementerian Kesehatan Malaysia dengan parameter fisik, kimia, dan mikrobiologi yang ketat.

Namun demikian, sektor air di Malaysia menghadapi berbagai tantangan, antara lain pencemaran akibat amonia dan mangan, tingginya non-revenue water (NRW), infrastruktur yang menua, serta risiko perubahan iklim seperti banjir dan kekeringan. Isu emerging contaminants dan mikroplastik juga menjadi perhatian dalam pengelolaan air minum masa depan.

Proses Pengolahan Air: Dari Konvensional hingga Lanjutan

Sesi dilanjutkan dengan pembahasan tahapan pengolahan air minum secara konvensional, meliputi:

Prof. Siti Rozaimah juga menjelaskan reaksi klorin dengan amonia yang dapat membentuk kloramin, serta tantangan pembentukan disinfection by-products (DBPs) seperti trihalomethanes (THMs) yang berpotensi berdampak pada kesehatan.

Sebagai respons terhadap tantangan kualitas air yang semakin kompleks, ia memaparkan teknologi pengolahan lanjutan, seperti membran (MF, UF, NF, RO), adsorpsi menggunakan karbon aktif, pertukaran ion, serta biological aerated filters (BAF). Teknologi ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi penghilangan kontaminan mikro dan senyawa pencemar baru.

Mendukung SDGs melalui Pendidikan dan Kolaborasi

Kegiatan hari keempat ini memperkuat komitmen Prodi Teknik Lingkungan UNAIR dalam mendukung SDG 4 (Quality Education) melalui pengayaan wawasan global terkait sistem pengolahan air dan regulasi internasional, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi akademik dan pertukaran pengetahuan antara UNAIR dan UKM.

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pertanyaan terkait potensi penerapan teknologi membran di Indonesia, pengelolaan lumpur hasil koagulasi, hingga strategi adaptasi terhadap risiko iklim.

Melalui sesi ini, mahasiswa dan dosen diharapkan semakin memahami pentingnya ketahanan air (water security) sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan, sekaligus terdorong untuk mengembangkan inovasi teknologi pengolahan air yang adaptif terhadap tantangan masa depan.